Dutaswaranes.com | Kota Bekasi – Bagi masyarakat Bekasi, Sasak Kapuk bukan sekadar sebuah kawasan. Di tempat itu tersimpan cerita perjuangan yang menjadi bagian dari sejarah mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
Pesan tersebut kembali digaungkan dalam momentum tabur bunga memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Kegiatan ini merupakan pelaksanaan kedua setelah pertama kali digelar pada 2025.

Lima putra daerah asal Bekasi yang menjadi inisiator kegiatan kembali mengajak masyarakat untuk tidak membiarkan sejarah perjuangan para pejuang Bekasi hilang ditelan zaman.
Arif Rahman Hakim, salah satu pencetus penggalian sejarah Sasak Kapuk yang kini menjabat Ketua Komisi III DPRD Kota Bekasi, mengatakan kegiatan tersebut lahir dari keinginan untuk menjaga ingatan kolektif masyarakat terhadap perjuangan para pendahulu.
“Ini menjadi sebuah inspirasi buat kita para anak bangsa untuk terus menjaga sejarah, apalagi sejarah yang ada di Bekasi ini,” kata Arif. Seusai acara tabur bunga senin (17/8/2026).
Ia menilai Sasak Kapuk memiliki nilai sejarah yang sangat kuat karena berkaitan dengan perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Salah satu tokoh yang disebut dalam sejarah perjuangan tersebut adalah KH Noer Ali bersama pasukannya.
“Sasak Kapuk ini sebuah sejarah yang sangat heroik, bagaimana KH Noer Ali itu berjuang bersama pasukannya untuk menjaga kemerdekaan Republik Indonesia,” ujarnya.
Bagi Arif, kebanggaan terhadap sejarah tersebut bukan hanya milik generasi yang hidup saat ini. Masyarakat Kaliabang, Pondok Ungu hingga Medan Satria, Bekasi Utara, menurutnya, memiliki tanggung jawab untuk memastikan kisah perjuangan itu terus diwariskan.
Karena itu, kegiatan tabur bunga diharapkan tidak berhenti pada peringatan HUT RI tahun ini.
“Harus terus ada. Selepas kami pun, generasi-generasi bangsa ini terus ada untuk mengadakan kegiatan ini,” tegasnya.
Bukan Sekadar Monumen
Upaya menjaga sejarah Sasak Kapuk juga diarahkan pada pembangunan monumen. Rencana tersebut sebelumnya ditargetkan masuk dalam penganggaran 2026.
Namun, rencana pembangunan monumen harus ditunda karena adanya pembangunan MRT sebagai bagian dari kegiatan nasional. Kondisi tersebut membuat penentuan titik lokasi monumen harus kembali disesuaikan.
“Monumen seharusnya memang sudah mau kita anggarkan di tahun 2026, tapi karena ada kegiatan nasional yaitu pembangunan MRT, kita tunda dulu,” jelas Arif.
Setelah pembangunan MRT selesai, pihaknya akan kembali menentukan lokasi yang tepat untuk mendirikan monumen sejarah Sasak Kapuk.
Targetnya, monumen tersebut dapat berdiri pada 2027.
“Ya, kita berharap monumen ini 2027 sudah terbangun setelah MRT-nya sudah terbangun juga,” katanya.
Arif menegaskan, pembangunan monumen bukan semata-mata menghadirkan sebuah bangunan fisik. Lebih dari itu, monumen diharapkan menjadi media edukasi sejarah bagi anak cucu dan generasi muda Bekasi.
Dengan adanya monumen, masyarakat tidak hanya mengenal perjuangan para pahlawan melalui cerita, foto, maupun video, tetapi juga dapat datang langsung ke lokasi dan memahami nilai sejarah yang terkandung di dalamnya.
“Monumen ini salah satu bentuk agar kita bisa mengingatkan kepada anak cucu kita bahwa pernah ada terjadi sejarah yang begitu hebat untuk kemerdekaan Republik Indonesia ini,” ujar Arif.
Ia berharap keberadaan monumen nantinya mampu membuat sejarah perjuangan para pejuang Bekasi semakin dekat dengan generasi muda.
“Cerita dan sejarah ini tidak lagi hanya melihat orang lewat video, lewat gambar, tetapi secara langsung mereka bisa melihat bagaimana heroiknya perjuangan-perjuangan para pejuang bangsa yang ada di Kota Bekasi ini,” pungkasnya.














