Dari Pendatang Jadi Kades, Hj. R Yaceu Herliyanti Kembali Dipercaya Warga Lambangsari

Photo: Hj. R Yaceu Herliyanti, SH. Kepala Desa Lambangsari, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi Periode 2026-2034 (terpilih) (Doc.Nis)
banner 120x600

Dutaswaranews.com | Bekasi – Perjalanan Hj. R Yache Herliyanti, SH.di Desa Lambangsari, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, kembali memasuki babak baru. Perempuan yang pernah memimpin Lambangsari pada 2012-2018 itu kembali memperoleh kepercayaan masyarakat dalam Pilkades 2026.

Pilkades Lambangsari digelar pada Minggu, 20 September 2026, setelah melewati rangkaian tahapan mulai dari pendaftaran calon, pengundian nomor urut, kampanye hingga pemungutan dan penghitungan suara.

Dalam penghitungan suara, nomor urut 2 Hj. R Yaceu menempati posisi teratas dengan capaian 2.689 suara dan mengungguli empat calon lainnya, termasuk calon petahana.

Namun, hasil pemungutan suara tersebut masih menjadi bagian dari rangkaian proses sebelum kepala desa terpilih resmi dilantik. Pelantikan kepala desa hasil Pilkades serentak Kabupaten Bekasi dijadwalkan pada 4 November 2026.

Bagi Hj. R Yaceu, kepercayaan warga Lambangsari kali ini terasa berbeda. Sebab, ia bukan sosok baru dalam pemerintahan desa. Ia pernah menjalankan roda pemerintahan Lambangsari selama enam tahun.

“Saya bersyukur, senang, haru dan bangga. Alhamdulillah saya kembali diberikan kepercayaan oleh masyarakat. Insyaallah kepercayaan ini akan saya jaga,” kata Hj. R Yaceu. Saat ditemui di kediamannya pada selasa (22/9/2026).

Bukan Warga Asli Lambangsari

Jauh sebelum menjadi kepala desa, Hj. R Yaceu tidak lahir dan besar di Kabupaten Bekasi. Ia datang sebagai pendatang dan sebelumnya menjalani kehidupan di kawasan perkotaan.

BACA JUGA:  Bursa BPD Tanjung Baru Menghangat, Putra Adi Sanjaya Siap Wakili Dusun 2

Latar belakangnya pun bukan birokrat. Sebelum terjun ke pemerintahan desa, ia merupakan seorang pengusaha.

Kehidupan di kota membuatnya terbiasa dengan pelayanan yang menurutnya mudah dan praktis. Kondisi berbeda ia rasakan ketika pindah ke Kabupaten Bekasi dan mulai mengurus berbagai kebutuhan administrasi sebagai warga.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan yang mendorongnya terjun ke dunia pemerintahan desa.

“Ketika saya pindah ke kabupaten, mengurus KTP saja terasa ribet dan mahal. Dari situ ada panggilan jiwa bahwa ini harus berubah,” ujarnya.

Momentum Pilkades 2012 kemudian menjadi titik balik perjalanan pengabdiannya di Lambangsari.

Sebagai pendatang baru, ia mengakui tidak semua pihak langsung menerima kehadirannya. Ada tantangan dan penolakan yang harus dihadapi.

Namun, Hj. R Yaceu memilih turun langsung menemui masyarakat.

Ia memperkenalkan diri dari satu lingkungan ke lingkungan lainnya, meminta doa sekaligus menyampaikan keinginannya untuk mengabdi.

Prinsip yang ia pegang sederhana: di mana seseorang berada, di tempat itu pula ia harus memberikan manfaat.

Prinsip tersebut kemudian membawanya terpilih sebagai Kepala Desa Lambangsari pada 2012 dan menjabat hingga 2018.

Pernah Benahi Sistem Pelayanan Desa

Selama periode kepemimpinannya, Hj. R Yaceu mengaku melakukan sejumlah pembenahan di lingkungan pemerintahan desa.

BACA JUGA:  Menjelang Pencoblosan, Lurah Kumpul Sebra Ajak Warga Doa Bersama untuk Kelancaran Pilkades

Ia menyebut kondisi bangunan kantor desa ketika itu berbeda dengan kondisi sekarang. Pembenahan dilakukan, termasuk renovasi bangunan hingga dua kali.

Ia juga pernah membangun musala di depan kantor desa, meskipun kemudian bangunan tersebut sudah tidak ada.

Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam kepemimpinannya adalah sistem pelayanan kepada masyarakat.

Ia berupaya membangun pola pelayanan yang menurutnya lebih mudah, murah dan cepat.

Pengalaman itulah yang kini ingin kembali dibawa ketika mendapat mandat masyarakat untuk memimpin Lambangsari.

Tiga Fokus Setelah Kembali Memimpin

Hj. R Yaceu mengatakan terdapat sejumlah aspirasi masyarakat yang akan menjadi perhatian setelah dirinya resmi dilantik.

Pertama, pembenahan pelayanan publik di tingkat desa. Menurutnya, persoalan pelayanan menjadi salah satu aspirasi yang disampaikan masyarakat. Kedua, peningkatan ekonomi warga. Ketiga, pengembangan potensi wisata Desa Lambangsari.

Ia melihat kawasan alam dan rawa yang ada di Lambangsari memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata alam dan kuliner.

Pengembangan itu, kata dia, tentu harus dilakukan melalui koordinasi dengan pihak yang memiliki kewenangan atas kawasan tersebut.

“Kita punya potensi wisata alam dan kuliner. Nanti tentu harus bekerja sama dan meminta izin kepada otoritas karena ada kewenangan yang harus diperhatikan,” jelasnya.

Keberadaan Pokdarwis juga diharapkan dapat menjadi bagian dari pengembangan potensi wisata tersebut.

BACA JUGA:  Jasa Raharja Pastikan Perlindungan Maksimal bagi Para Pemudik

Soal Susunan Pemerintahan Masih Dirahasiakan

Mengenai komposisi perangkat desa pada periode mendatang, Hj. R Yaceu belum bersedia membuka detailnya.

Ia mengatakan dirinya masih menunggu proses hingga pelantikan dan belum menerima surat keputusan sebagai kepala desa definitif.

Karena itu, perubahan maupun kelanjutan struktur pemerintahan desa masih menjadi pembahasan internal.

“Tunggu saja setelah saya dilantik pada 4 November. Sekarang saya belum definitif dan belum mendapatkan SK,” katanya.

Kembalinya Hj. R Yaceu Herliyanti ke Lambangsari sekaligus menandai perjalanan panjang seorang pendatang yang pernah mendapat kepercayaan memimpin desa, kemudian kembali memperoleh mandat masyarakat setelah beberapa tahun meninggalkan jabatan kepala desa.

Bagi dia, jabatan tersebut bukan semata-mata posisi pemerintahan, melainkan ruang untuk kembali mengabdi kepada masyarakat.

“Pengabdian itu tidak harus berada di tingkat atas. Cukup dengan bermasyarakat dan tentunya bermanfaat,” pungkasnya.