dutaswaranews.com| Kabupaten Bekasi – Komitmen memperkuat ketahanan pangan terus didorong oleh Commissioner PT Multi Karya Raharja (MKR) Group, Wawan Gunawan, melalui pengembangan sektor pertanian terpadu yang melibatkan berbagai komoditas unggulan serta kolaborasi dengan pelaku usaha dan masyarakat.
Wawan Gunawan menjelaskan bahwa program yang ia gagas tidak hanya berfokus pada satu komoditas, melainkan mencakup berbagai sektor pertanian, peternakan, hingga perikanan sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian pangan.
“Pertanian yang kami kembangkan terdiri dari berbagai komoditas, seperti pepaya Hawaii, padi IR64 yang kini menjadi beras Jembat Super, kopi, cokelat, hingga jahe. Selain itu juga ada sektor peternakan seperti sapi, kambing, ayam petelur, serta perikanan,” ujar Wawan Gunawan saat menjelaskan konsep pengembangan pertanian terpadu yang sedang dijalankannya. Sabtu (18/4/2026).
Menurutnya, konsep tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan produksi pangan, tetapi juga membuka peluang kolaborasi bagi berbagai pihak, mulai dari investor, pengusaha mandiri, hingga pemilik lahan yang ingin mengembangkan potensi pertanian.
“Saya ingin mengajak semua pihak untuk berkolaborasi, baik yang ingin berinvestasi, menjadi pengusaha mandiri, maupun yang memiliki lahan. Mari kita bekerja sama membangun sektor pertanian yang lebih kuat,” katanya.
Selain fokus pada pengembangan komoditas pangan, Wawan juga mengungkapkan bahwa sejumlah produk hasil pertanian yang dikelola bersama komunitas pangan memiliki peluang untuk menembus pasar internasional. Saat ini, kopi dan cokelat yang dikembangkan tengah dalam proses pengujian laboratorium sebagai bagian dari persiapan ekspor.
“Alhamdulillah, kami mendapat kesempatan untuk membuka pasar ke Rusia. Saat ini produk kopi dan cokelat masih dalam tahap pengecekan laboratorium. Mudah-mudahan hasilnya sesuai sehingga bisa segera dipasarkan ke luar negeri,” jelasnya.
Di sisi lain, Wawan juga terus melakukan inovasi dalam meningkatkan produktivitas pertanian, khususnya pada komoditas padi. Ia mengungkapkan bahwa melalui penggunaan pupuk mikroba Garuda Sakti dan pupuk kohe, hasil panen petani berhasil meningkat signifikan.
“Dulu hasil panen padi rata-rata hanya sekitar 5 ton per hektare. Sekarang dengan penggunaan pupuk mikroba Garuda Sakti dan tambahan pupuk kohe, hasilnya bisa mencapai 8 ton per hektare,” ungkapnya.
Menurutnya, pendekatan yang digunakan tidak hanya meningkatkan hasil produksi, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem pertanian. Penggunaan mikroba dinilai mampu mengembalikan kesuburan tanah serta menciptakan rantai ekologi yang lebih sehat.
Ia mencontohkan, kehadiran hama seperti tikus justru memunculkan keseimbangan alami karena ada predator seperti ular yang menjadi bagian dari rantai makanan di lingkungan pertanian.
“Ekosistemnya menjadi hidup kembali. Ada tikus, ada ular yang memangsa tikus, sehingga keseimbangan alam tetap terjaga. Dulu kondisi seperti ini sudah jarang terlihat,” katanya.
Terkait tantangan dalam budidaya padi, Wawan mengakui bahwa serangan hama seperti burung pipit masih menjadi salah satu kendala yang dihadapi para petani. Namun ia memilih menyikapinya dengan pendekatan yang lebih bijak.
Menurutnya, kehadiran burung pipit merupakan bagian dari kehidupan alam yang juga membutuhkan sumber makanan.
“Memang burung pipit kadang memakan padi. Tapi saya ikhlas, karena itu juga bagian dari rezeki makhluk lain. Yang menarik, saat panen jumlah hasilnya tetap sama, tidak berkurang. Saya yakin ini bagian dari kebesaran Allah SWT,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Wawan juga berharap pemerintah dapat memberikan dukungan lebih besar terhadap para pelaku pertanian yang berupaya memperkuat ketahanan pangan nasional.
Ia mengaku masih terus belajar dan mengembangkan sistem pertanian yang lebih produktif dan berkelanjutan.
“Saya masih dalam tahap belajar dan tentu sangat membutuhkan dukungan dari pemerintah agar program ketahanan pangan ini bisa terus berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas,” pungkasnya.














