Putra Daerah HK. Damin Sada Tegaskan Pluralisme sebagai Jati Diri Sejarah Bekasi

Redaksi
Photo: Diskusi Pekan Budaya Bekasi Sejak Pluralisasi Di Bekasi bersama para tokoh Bekasi ( Doc.cam)
banner 120x600

dutaswaranews.com, Bekasi || Ketua Umum Jawara Jaga Kampung Jajaka Nusantara, HK. Damin Sada, menegaskan bahwa pluralisme telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan sejarah Bekasi. Hal tersebut disampaikannya dalam Diskusi Pekan Budaya Bekasi bertema “Jejak Pluralisasi di Bekasi” yang digelar di Gedung Creative Center Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat, Minggu (25/1/2026).

Sebagai putra daerah Bekasi, HK. Damin Sada yang akrab disapa Baba Damin – mengulas bagaimana Bekasi sejak masa lalu berkembang sebagai wilayah dengan latar belakang budaya, agama, dan sosial yang beragam. Menurutnya, keberagaman tersebut bukan sekadar realitas sosial, melainkan fondasi historis yang membentuk karakter masyarakat Bekasi hingga saat ini.

BACA JUGA:  Kadisdik Jabar Lakukan MC-0 Pembangunan SLB Negeri & SMA Negeri 20 Kota Bekasi

“Pluralisme di Bekasi bukan fenomena baru. Ia tumbuh seiring perjalanan sejarah daerah ini dan menjadi kekuatan utama dalam membangun kebersamaan masyarakat,” ujar Baba Damin di hadapan peserta diskusi.

Diskusi kebudayaan tersebut dibuka oleh Brigadir Jenderal TNI (Purn) H. Kemal Hendrayadi dan menghadirkan sejumlah tokoh serta akademisi, di antaranya H. Hans Muntahar, Drs. H. Paray Said, MM, MBA, serta HK. Damin Sada sendiri sebagai narasumber utama.

Dalam pemaparannya, HK. Damin Sada menyoroti pentingnya menjadikan sejarah lokal dan kearifan masyarakat sebagai pijakan dalam merumuskan kebijakan pembangunan, mulai dari tingkat desa hingga daerah. Ia menekankan bahwa pembangunan yang berkeadilan harus melibatkan partisipasi masyarakat dan menjunjung tinggi semangat kebersamaan lintas kelompok.

BACA JUGA:  Nyimas Sakuntala Dewi: Tragedi 1965 Harus Jadi Pelajaran untuk Generasi Muda

“Pembangunan tidak boleh tercerabut dari akar sejarah dan nilai-nilai lokal. Bekasi dibangun oleh keberagaman, maka semangat itu harus tetap menjadi roh dalam setiap kebijakan,” tegasnya.

Diskusi juga mengangkat tantangan pluralisme di tengah laju urbanisasi dan perubahan sosial yang cepat. Para narasumber sepakat bahwa ruang dialog kebudayaan seperti Pekan Budaya Bekasi menjadi sarana strategis untuk merawat toleransi, memperkuat identitas daerah, serta mencegah tergerusnya nilai-nilai kebhinekaan.

Pekan Budaya Bekasi diharapkan tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga wadah edukasi publik dan refleksi bersama mengenai sejarah, identitas, serta arah masa depan Bekasi sebagai kota yang inklusif dan berakar kuat pada nilai kebersamaan.