Daerah  

Bansos Tak Tepat Sasaran, Pemerintah Bekasi Dinilai Abai pada Nasib Lansia Seperti Maryati

Redaksi
Foto: Nenek Maryati (81) Tahun Warga RT 05/01) Kelurahan margamulya Kecamatan Bekasi utara (Doc.Nds)
banner 120x600

dutaswaranews.com, Kota Bekasi ||Di tengah klaim pemerintah daerah soal keberhasilan penyaluran bantuan sosial, kenyataan di lapangan justru menunjukkan masih banyak warga rentan yang luput dari perhatian.

Salah satunya Maryati (81), janda lansia di Kelurahan Margamulya, Bekasi Utara, yang selama lebih dari tiga dekade tinggal di Kota Bekasi namun mengaku tak pernah merasakan bantuan apa pun dari pemerintah daerah. Kisahnya menyoroti lemahnya pendataan dan ketidaktepatan sasaran program kesejahteraan sosial.

Maryati, yang hidup sebatang kara sejak ditinggal suami lima tahun lalu, bertahan dengan kondisi memprihatinkan. Tanpa keluarga dekat, tanpa saudara, dan tanpa pendamping di usia renta, ia mengandalkan pekerjaan mengurut bayi keahlian sederhana yang masih sanggup ia lakukan demi menyambung hidup.

“Belum pernah dapat bantuan saya. Dari dulu nggak pernah dapet apa-apa,” ujarnya lirih saat ditemui di lokasi, Kamis (20/11/2025).

BACA JUGA:  UMKM Bekasi Dapat Akses Tenant Murah di Wisata Air Kalimalang

Setiap hari, penghasilan Maryati hanya berkisar Rp35.000 hingga Rp40.000, yang harus ia bagi untuk kebutuhan makan dan menabung membayar kontrakan. Dengan biaya hidup yang terus meningkat, bahkan keterpaksaan dirinya sampai meminta minta namun jumlah itu jauh dari cukup.

“Kalau dapet 40 ribu, 20 buat nabung bayar kontrakan, 20 buat makan. Kadang nggak cukup,” ungkapnya.

Meski hidup dalam keterbatasan, Maryati memilih tidak tinggal bersama anaknya yang kini menetap jauh darinya. Ia enggan menjadi beban.

“Saya nggak mau ikut anak. Saya mau hidup sendiri. Kontrakan juga bayar sendiri. Alhamdulillah masih bisa bersyukur,” katanya.

Namun yang paling menyayat, seluruh program bantuan yang seharusnya menyasar warga rentan tak pernah menyentuhnya. Tidak PKH, tidak BLT, tidak pula bantuan rutin lainnya.

BACA JUGA:  Pelepasan Tim Liputan Mudik B-Universe 2026 Perkuat Informasi Arus Lebaran

“PKH nggak pernah. BLT juga nggak. Cuma waktu Corona aja dapat,” ungkapnya.

Sejak kepergian suaminya pada 2020, kesulitannya semakin berat. Tak ada keluarga, tak ada sandaran, dan tak ada tangan pemerintah yang hadir.

“Udah lima tahun saya sendiri. Nggak punya saudara, nggak punya keluarga,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Kisah Maryati menjadi gambaran nyata bahwa di balik berbagai program bantuan sosial, masih ada warga lanjut usia yang justru tercecer dari daftar penerima. Di usianya yang semakin renta, ia terpaksa bergantung pada penghasilan harian yang tidak menentu situasi yang seharusnya tidak terjadi bagi warga lansia di kota besar seperti Bekasi.

Potret ini sekaligus menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah untuk mengevaluasi kembali pendataan dan mekanisme penyaluran bantuan. Harapan besar disampaikan agar program kesejahteraan dapat benar-benar tepat sasaran, menyentuh mereka yang paling membutuhkan, dan tidak lagi meninggalkan warga rentan seperti Maryati dalam kesunyian dan keterbatasan.