Daerah  

Bendahara PBB DKI Jakarta: Kebhinekaan Adalah Benteng Terkuat Bangsa di Tengah Dinamika Zaman

Photo: F. Suprawilson Sianturi, Bendahara Dewan Pimpinan Wilayah Pemuda Batak Bersatu DKI Jakarta (Doc.Ist)
banner 120x600

Dutaswaranews.com | Jakarta – Di tengah arus perubahan sosial dan politik yang kian dinamis, seruan untuk menjaga persatuan kembali digaungkan.

F. Suprawilson Sianturi, Bendahara Dewan Pimpinan Wilayah Pemuda Batak Bersatu DKI Jakarta, menegaskan bahwa merawat kebhinekaan adalah kewajiban seluruh anak bangsa agar Indonesia tidak terpecah.

Dalam pernyataannya, Suprawilson Sianturi menekankan bahwa keberagaman suku, agama, ras, dan golongan bukanlah kelemahan, melainkan kekayaan yang harus dijaga bersama.

“Merawat kebhinekaan dan mencegah perpecahan bangsa adalah harga mati. Di tengah dinamika zaman yang serba cepat dan penuh tantangan, kita harus kembali kepada nilai-nilai dasar bangsa: Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Jangan sampai perbedaan justru menjadi alat untuk memecah belah,” ujar Suprawilson. Senin (17/8/2026).

BACA JUGA:  Jasa Raharja Dukung Transportasi Aman di Operasi Ketupat

Sebagai Bendahara PBB DKI Jakarta dan kader Pemuda Batak Bersatu, ia menilai peran ormas, partai politik, dan tokoh masyarakat sangat strategis dalam meredam potensi konflik. Menurutnya, ruang-ruang dialog harus terus dibuka agar perbedaan pendapat dapat disalurkan secara demokratis dan beradab.

“Bangsa ini besar karena mampu hidup berdampingan dalam perbedaan. Tugas kita hari ini adalah memastikan generasi muda memahami bahwa persatuan tidak berarti harus sama, tetapi bersedia menghormati dan bekerja sama,” lanjutnya.

BACA JUGA:  Visi Futuristik Fajar Shodik: Menuju Era Baru Desa Sumberjaya Mandiri dan Transparan

Suprawilson juga mengajak seluruh elemen masyarakat Jakarta untuk tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang memecah belah, khususnya di ruang digital. Ia menilai literasi kebangsaan dan toleransi harus terus dikuatkan agar Jakarta tetap menjadi rumah bersama yang aman dan kondusif.

“Kita berbeda-beda tetapi tetap satu. Itulah Indonesia. Mari kita jaga bersama, karena ketika persatuan retak, maka cita-cita kemerdekaan akan sulit kita wujudkan,” pungkasnya.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa di usia kemerdekaan yang semakin matang, semangat persatuan dan toleransi harus terus dihidupkan sebagai fondasi membangun Indonesia yang adil, berdaulat, dan berkeadaban.