G30S/PKI: Pesan Advokat Senior untuk Generasi Muda

Redaksi
banner 120x600

dutaswaranews.com, Jakarta – Advokat senior sekaligus pakar hukum, H. Kemas Ridwan Anthony Taufan, SE., S.H., M.H., MKn., M.M., M.Si., mengingatkan pentingnya generasi muda untuk tidak melupakan sejarah kelam bangsa, yakni peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI).

Tokoh yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Bas Ridho serta Ketua Umum Goegoek Kesultanan Palembang Darussalam se-Jabodetabek, sekaligus Managing Partner & Founder Anthony Andhika Law Firm dan AALF Legal ini menekankan, tragedi G30S/PKI bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan pelajaran berharga tentang ideologi dan bahaya laten yang pernah mengancam persatuan Indonesia.

“Peristiwa G30S/PKI adalah bagian dari sejarah bangsa yang wajib dikenang. Generasi muda harus tahu bagaimana bangsa ini pernah diuji dengan pengkhianatan yang memakan banyak korban,” ujar H. Kemas Ridwan Anthony Taufan.

BACA JUGA:  Dewi: Hari Anak Nasional 2025, Libatkan 3.000 Siswa Jadikan Duta Informasi Keselamatan Lalu Lintas

Menurutnya, tragedi tersebut tidak hanya menorehkan luka mendalam bagi bangsa Indonesia, tetapi juga menjadi titik balik dalam perjalanan sejarah. Ia menegaskan bahwa mengenang sejarah bukan berarti membuka luka lama, melainkan sebagai benteng agar bangsa tidak terjerumus ke dalam perpecahan yang sama.

“Anak muda sekarang harus lebih cerdas memilah informasi. Jangan mudah terpengaruh paham yang bertentangan dengan nilai Pancasila. Sejarah harus menjadi pengingat, bukan sekadar tontonan tahunan,” katanya.

H. Kemas Ridwan juga mengingatkan bahwa kebebasan berpendapat yang ada di era demokrasi saat ini seharusnya dimanfaatkan untuk memperkuat persatuan, bukan dijadikan celah menyebarkan ideologi yang dapat merusak bangsa.

BACA JUGA:  Jasa Raharja Perkuat Tata Kelola dan Integritas di Wilayah Sulselbar

“Sejarah G30S/PKI mengajarkan kita, bahwa jika bangsa ini lengah, maka akan ada pihak yang mencoba mengambil keuntungan dengan cara-cara yang tidak beradab,” tegasnya.

Sebagai advokat, ia berharap generasi muda tidak hanya mengenal tragedi 1965 dari sisi politik dan kekuasaan, tetapi juga dari sisi kemanusiaan. Banyak keluarga yang menjadi korban, dan hal ini harus dijadikan pelajaran agar Indonesia tidak lagi mengalami tragedi serupa.

“Kalau kita tidak boleh lupa sejarah, Oleh karena itu, mari kenang, pahami, dan jadikan sejarah sebagai cermin untuk melangkah ke depan,” tutupnya.